Senin, 28 November 2011

G30S/PKI


Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ Gerakan 30 September/PKI”.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaiakn tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Insida Cibinong.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun, penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan doa dari orang tua, sehingga kendala – kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. 



Penulis 

Perumusan Masalah
Dalam tulisan ini masalah yang berhasil dirumuskan untuk memperjelas bahasan dalam makalah ini adalah:
1.    Bagaimana Pembrontakan G 30 S/PKI?
2.    Bagaimana Penumpasan G 30 S/PKI?

Pembatasan Masalah
Batas- batas masalah yang akan diberlakukan dalam makalah ini agar pembahasan menjadi lebih fokus adalah:
1.    Pemberontakan G 30 S/PKI
a.    Penyusupan ke Dalam Organisasi Sosial Politik
b.    Fitnah dilakukan oleh PKI
c.    Persiapan Pemberontakan
d.    Pemberontakan PKI
2.    Penumpasan G 30 S/PKI
a.    Penumpasan PKI di Jakarta
b.    Penumpasan di Daerah – Daerah
Pembahasan
1.    Pemberontakan G 30 S/PKI
A.  Penyusupan ke Dalam Organisasi Sosial Politik
Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak awal kemerdekaan senantiasa ingin merebut pemerintahan indonesia. Selain merebut pemerintahan, mereka juga ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan Marxisme – Leninisme. Upaya mewujudkan tujuan itu telah terlihat sejak pemberontakan yang mereka lakukan pada tahun 1948. Pemberontakan itu dapat digagalkan, tetapi belum dapat ditumpas secara tuntas karena Pemerintahan RI menghadapi Militer II Belanda. pada tahun 1950-an, PKI kembali bangkit. Dalam pemilihan umum tahun 1955, PKI menjadi partai terbesar nomor 4 di Indonesia.
Pada upacara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1959, Presiden Soekarno mengucapkan Pidato yang berjudul “ Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Pidato Presiden itu kemudian disahkan menjadi Garis – Garis Besar Haluan Negara (GBHN)  yang diberi nama Manifesto Politik (Manipol).
Semenjak Manipol dikumandangkan menjadi GBHN, Presiden Soekarno lambat laun mengambil alih berbgai wewenang yang seharusnya berada ditangan MPRS dan DPR-GR. Demokrasi yang seharusnya dipimpin oleh permusyawaratan kemudian diubah menjadi Demokrasi Terpimpin. Penyelewengan – penyelewengan di bidang ketatanegaraan lambat laun menjerumuskan negara ke arah penyimpangan. Pandangan hidup bangsa Inonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 secara berangsur – angsur diabaikan dan lebih menekankan kepada Nasakom. Semakin lama PKI merasa semakin kuat karna program – programnya menjadi bagian dari program pemerintah.

Untuk menunjukan kekuatannya PKI berpura – pura menerima Pancasila dan UUD ’45. Akan tetapi kemudian mereka mengatakan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu dan kalau semua sudah bersatu, PKI tidak memerlukan Pancasila lagi.
Tindakan PKI itu tentu saja menggelisahkan kalangan yang setia kepada Pancasila. Partai Murba mencoba menentang PKI, tetapi PKI berhasil mempengaruhi Presiden Soekarno untuk membubarkan Murba. PKI juga melakukan penyusupan pada tubuh PMI sehingga mengakibatkan pecahnya PNI menjadi dua. PNI dibawah pimpinan Ali Sostroamidjojo disusupi oleh tokoh PKI Ir.Surachman. PNI Osa-Usep dipimpin oleh Osa Maliki dan Usep Ranawidjaja.
Untuk menyusup kedalam tubuh ABRI dan Organisasi sosial politik lain, Ketua Comite Central PKI, D.N. Aidit, membentuk sebuah  Biro Khusus. Selain mengadakan penyusupan, tugas Biro Khusus, juga mempersiapkan pemberontakan. Usaha Biro Khusus ini cukup berhasil, terbukti dari adanya beberpa anggota ABRI yang mendukung dan terlibat dalam pemberontakan G 30 S/PKI. Anggota ABRI yang terlibat PKI adalat Letnan Kolonel Untung, Brigjen Soepardjo, Kolonel Latif, dan lain – lain.
PKI juga menginkan agar organisasi yang ada dalam pengaruhnya, seperti Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia (BTI), Gerakan Wanita indonesia (Gerwani) dipersenjatai dan diberi latihan kemiliteran, terutama mereka yang ikut sukarelawan Dwikora. Pada setia kesempatan, tokoh PKI senantiasa menyampaikan usul kepada Presiden Soekarno untuk membentuk Angkatan Ke-V. Akan tetapi usul PKI itu selalu, mendapat tantangan dari ABRI. Mentri Koordinator (Menko) Hankam Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jendral A.H Nasution, Mentri Panglima Angkatan Darat, Jendral A. Yani, dan pimpinan ABRI lainnya yang setia kepada Pancasila menolak dengan tegas usulan tersebut.
B.  Fitnah Dilalukan oleh PKI
Disamping melakukan penyusupan kedalam tubuh organisasi lawanya, PKI juga melakukan fitnah keberbagai organisasi politik dan organisasi massa sebagi teror untuk melumpuhkan kekuatan lawanya. Fitnah yang paling jahat tuduhan Pki tentang adanya Dewan Jendral dalam tubuh Angkatan Darat. Dewan Jendral itu bertugas menilai kebijakan politik Presiden Soekarno. Mereka menunjuk adanya sebuah dokumen yang disebut  Document Gilchrist. Gilchrist adalah duta besar inggris untuk RI saat itu. Dokumenini menyatakan bahwa seolah – olah Dewan Jendral yang ada pada Angkatan Darat mempunyai hubungan dengan CIA (Central Intelligence Agency) atau Dinas Rahasia Amerika Serikat dan mempunyai maksud akan melakukan perebutan kekuasaan.
Wakil Perdana Mentri I (Waperdam I), Dr. Soebandrio, membawa “Dokumen” untuk ke Istana Merdeka dan melaporkannya kepda Presiden Soekarno. Setelah membawa dokumen itu, Presiden segera memanggil semua panglima Angkatan. Dalam pertemuan itu Men/Pangad,Letnan Jendal Achmad Yani, menjelaskan bahwa Angkatan Darat tidak ada Dewan Jendral seperti yang dimaksudkan oleh PKI. Oleh karena itu, ABRI/TNI-AD membantah keras fitnah yang dilontarkan oleh PKI. Men/Pangad menambahakan bahwa yang ada dilingkungan TNI-AD ialah Wanjati, yaitu Dewan yang menilai anggota perwira TNI-AD (Kolonel) yang dapat dipromosikan mendapat jabatan tinggi 
C. Persiapan Pembrontakan
 Pada bulan Juli dan Agustus 1965, kesehatan Presiden Soekarno menurun dan mendapat pemeriksaan tim dokter dari RRC dan dokter Indonesia. Menurut analisis dokter, keadan presiden sangat gawat. Mengetahui situasi demikian, tokoh – tokoh PKI, seperti Nyoto dan Aidit yang sedang berada diluar negeri segera kembali ke indonesia untuk melakukan persiapan pemberontakan. Mereka khawatir, apabila keadaan bertambah kritis, ABRI akan mengambil tindakan terhadap PKI dan ormasnya.
Aidit memerintahakn Biro Khusus PKI untuk membuat suatu rencana gerakan. Sejak awal September 1965, mereka semakin sering mengadakan rapat rahasia dengan beberapa oknum ABRI yang telah dipengaruhi komunisme untuk membahas rencana pemberontakan. Rencana gerakan yang dibuat oleh Biro Khusus itu disetujui oleh Aidit. Selanjutnya, pimpinan Biro Khusus segera menghubungi perwira – perwira ABRI yang telah dibina untuk mempersiapka diri melaksanakan gerakannya.
Sebagai pendukung gerakan yang akan dilakukan, PKI mengadakan latihan militer bagi anggota – anggotanya didaerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Latiham dilakukan dengan berkedok melatih para sukarelawan dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Sampai akhir September 1965, didesa Lubang Buaya telah dilatih kurang lebih 3.000 orang anggota PKI dan organisasi bawahannya 
D.   Pemberontakan PKI
Dini hari pada tanggal 1 Oktober 1965, PKI mulai mengadakan penculikan dan pembunuhan terhadap para pemimpin tinggi atau pejabat teras TNI-AD.
 Dalam aksinya jatuh korban enam perira tinggi dan seorang perwira pertama angkatan darat yang dianiaya dan dibunuh oleh PKI, dibawa ke Lubang Buaya. Setelah puasmenganiaya, perwira yang masih hidup dimasukan kedalam sumur tua yang terletak disana. Perwira TNI-AD yang menjadi korban tersebut adalah berikut:
·         Letnan Jendral Achmad Yani, Mentri atau Panglima Angkatan Darat.
·         Mayor Jendral R. Suprapto, Deputi II Panglima Angkatan Darat.
·         Mayor Jendral Haryono Mas Tirtodarmo, Deputi III Panglima Darat.
·         Mayor Jendral Siswondo Parman, Asisten I Panglima Angkatan Darat.
·         Brigadir Jendral Donald Izacus Panjaitan, Asiten IV Panglima Angkatan Darat.
·         Letna Satu Piere A. Tendean, Ajudan Menko Hankam Kasab. 
Dalam gerakan penculikan itu, Jendral Abdul Haris Nasution, Mentri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, berhasil meloloskan diri dari penculikan. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani, dan Ajudannya, Letnan Satu Piere Tendean, tewan dibunuh oleh PKI. Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun yang sedangt bertugas jaga dirumah Waperdam II, Dr. J. Leimena, tetangga Jendral Nasution, juga tewas ketika akan melawan gerombolan penculik Jendral Nasution.
Politik luar negrri bebas aktif dialihkan menjadi politik luar negeri yang memihak Blok Timur (Blok Komunis). Puncak semua kebijakan itu adalah G 30 S/PKI. Peristiwa itu menyebabkan gugurnya tujuh patriiot bangsa yang dibunuh secara kejam oleh PKI.
2.    Penumpasan G 30 S/PKI
Hanya sehari setelah PKI mencetuskan pemberontakannya, penumpasan terhadap mereka pun dimulai. Penumpasan PKI dimulai di Jakarta kemudian Penumpasan di Daerah – daerah.
A.   Penumpasan PKI di Jakarta
Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, G 30 S/PKI masih menguasai studio RRI dan Kantor Telekomunikasi. Melalui RRI, Letnan Kolonel Untung mengumumkan dekrit pembentukan  Dewan Revolusi sebagai sumber kekuasaan negara dan mendemisionerkan Kabinet Dwikora.
Upaya PKI untuk merebut pemerintahan RI tersebut segera dihadang oleh kekuatan yang setia kepada
Pancasila dan senantiasa waspada terhadap tindakan PKI. Di Jakarta, kekuatan itu berada dibawah Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), Mayor Jendral Soeharto. Setelah mengetahui bahwa negara dalam keadaan bahaya, Panglima Kostrad bertindak dengan cepat untuk memulihkan kekuasaan pemerintahan di ibu kota.
Tindakan yang pertama diambilnya adalah engadakan koordinasi. Ia mencoba menghubungi Presiden Soekarno, tetapi tidak berhasil. Koordinasi kemudian dilanjutkan dengan menghubungi Menteri/Panglima Angkatan Laut dan Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian. Menteri/Panglima Angkatan Udara tidak berhasil dihubungi, karena mereka memihak kepada PKI. Setelah melakukan koordinasi, Pangkostrad memutuskan untuk segera mengadakan penumpasan terhadap pemberontak.
Operasi penumpasan G 30 S/PKI dimulai pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965. Dalam waktu singkat ABRI yang dipimpin oleh Mayor Jendral Soeharto berhasil menyelamatkan Republik Indonesia dari ancaman komunisme.
 Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa Pancasila mampu membuktikan diri sebagai kekuatan yang besar dan dijunjung tinggi oleh bangsa indonesia.
Malam harinya, melalui RRI, Mayor Jendral Soeharto menjelaskan kepada rakyat Indonesia tentang adanya perebutan kekuasaan negara oleh kelompok yang menamakan dirinya Gerakan Tiga Puluh September. Ia juga menambahkan bahwa masyarakat diharapkan tenang dan waspada.
Pidato itu mematahkan semangat para pemberontak. Setelah keadaan ibu kota dapat dikuasai kembali, penumpasan langsung ditujukan kebasis uatama G 30 S/PKIyang berada disekitar dipangkalan udara Halim Perdanakusuma. Tanpa mengalami kesulitan, pada pagi hari, tanggal 2 Oktober 1965, Pangkalan Udara Halim Perdanakusumadapat dikuasai.
Selanjutnya, ABRI mengadakan pencarian terhadap perwira – perwira Angkatan Drat yang diculik oleh PKI ke kampung Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pencarian ketempat itu dilakukan atas petunjuk seorang polisi, Ajun Brigadir Polisi Sukitman mengetahui tempat itu karena sebelumnay ia memang ikut tawanan oleh PKI dan dibawa ketempat itu. Akan tetapi, ia berhasil melarikan diri.
Di desa Lubang Buaya itulah jenazah para perwira tinggi angkatan darat itu dikubur dalam sebuah sumur tua yang bergaris tengah kurang dari satu meter dengan kedalaman 12 meter. Luka – luka yang terdapat pada jenazah itu menunjukan bahwa mereka disiksa dengan kejam sebelum dibunuh. Pengangkatan jenazah dilakukan pada tanggal 4 Oktober. Keesokan harinya, bertepatan di Hari Ulang Tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965, para perwira Angkatan Darat itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Para korban di anugerahi Pahlawan Revolusi dan diberikan kenaikkan pangkat satu tingkat lebih tinggi secara anumerta.
Untuk penumpasan pemberontakan G 30 S/PKI dan pemulihan keamanan akibat pemberontakan itu, pemerintah membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Mayor Jendral Soeharto ditunjuk sebagai Panglima Kopkamtib. 
B.   Penumpasan di Daerah – Daerah
Keadaan di Jawa Tengah juag gawat karena ditempati ini PKI juga melakukan pemberontakan dengan kekuatan bersenjata, seperti halnya di Jakarta. Di Semarang, Kolonel Suhirman, Asisten l Kodam VII/Diponegoro, menyatakan dukungannya kepada pemberontak G 30 S/PKI. Pemberontak G 30 S/PKI menguasai Markas Kodam VII/Diponegorodan dijadikan sebagai pusat gerakan.
Di Yogyakarta, pemberontak G 30 S/PKI menculik Komandan Korem 072/Pamungkas, Kolonel Katamso, dan Kepala Staf Korem 072, Letnan Kolonel Sugiono. Kedua Perwira itu dibunuh dengan kejam.
Pengumuman RRI Jakata bahwa Jakarta telah dikuasai kembali oleh ABRI menimbulkan dampakyang besar. Untuk menumpas dan membersihkan sisa – sisa G 30 S/PKI secara lebih intensif Mayor Jendral Soeharto mengirim pasukan RPKAD dibawah pipinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Pasukan G 30 S/PKI di Jawa Tengah mulai patah semangat. Akhirnya, pimpian pemberontak di Semarang, Kolonel Suhirman, dan kawan – kawannya melarikan diri keluar kota. Kesatuan yang mendukung PKI dapat diinsyafkan.
Selanjutnya, satu demi satu kota – kota yang tadinya dikuasai oleh pemberontak G 30 S/PKI berhasil direbut kembali. Sejak tanggal 5 Oktober 1965 secara fisik militer keamanan dalam jajaran Kodam VII/Diponegoro telah pulih kembali.
 Akan tetapi, setelah kekuatan militer PKI dapat dihacurkan, di Jawa Tengah timbul gerakan pengacauan berupa sabotase dan pembunuhan yang dilakukan oleh massa PKI terhadap rakyat. Berkat kerja sama ABRI dan rakyat, keamanan dan ketertiban dapat dijaga.
Sementara itu, pemimpin – pemimpin PKI yang belum tertangkap berusaha mengadakan konsolidasi. Mereka mempersiapkan pemberontakan bersejata dengan dukungan para petani. Untuk melaksanakan rencan itu, secar diam – diam dan rahasia mereka menyusun kompro – kompro (komite proyek) sebagai basis kembalinya PKI. Salah satu kompro yang paling besar adalah Kompro Blitar Selatan. Di sini PKI berhasil mempengaruhi rakyat. Namun, ABRI segera mencium usaha PKI itu. Penumpasan terhadap Kompro Blitar Selatan dilakukan dengan sebuah operasi yang dinamakan  Operasi Trisula sejak tanggal 3 Juli 1968. Operasi itu berhasil membongkar basis pertahanan PKI.
Penumpasa pemberontakan G 30 S/PKI di tempat – tempat lain di Indonesia dilakukan dengan melakukan operasi teritorial. Usaha penangkapan terhadap tokoh – tokoh PKI dilakukan karena umumnya pendukung G 30 S/PKI tidak sempat melakukan gerakan perebutan kekuasaan. Di daerah Jawa Timur dan Bali memang terjadi kekacauan penculikan dan pembunuhan, tetapi dalam waktu singkat keadaan dapat ditertibkan kembali.
Penyelesaian aspek politik mengenai pemberontakan G 30 S/PKI akan ditangani secara langsung oleh Presiden Soekarno. Namun, karena berlarut – larut dan tidak ada ketegasan timbullah aksi – aksi yang menuntut penyelesaian secara politis bagi mereka yang terlibat G 30 S/PKI.
 Pada tanggal 26 Oktober 1965, semua kekuatan yang anti komunis mengkokohkan diri dalam satu barisan, yaitu Front Pancasila. Setelah itu, muncul gelombang demonstrasi yang menuntut agar PKI dibubarkan. Aksi – aksi itu dipelopori oleh kesatuan aksi pemuda, mahasiswa dan pelajar. Dan akhirnya G 30 S/PKI dapat di tumpas dan Indonesia memasuki Orde Baru. 
 Kesimpulan
Telah kita ketahui bahwa G 30 S/PKI berusaha merebut kekuasaan negara dengan kekerasan. Tidakan yang mereka lakukan menimbulkan bencana nasional karena membawa korban, diantaranya adalah Pahlawan Revolusi. Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan keampuhan pancasila sebagai ideologi bangsa, dalam waktu singkat pemberontakan dapat ditumpas dan tyokoh – tokohnya ditangkap. Itu berarti paham komunis dan kekejamanya tidak dapat diterima oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila membuktikan dirinya sebagai kekuatan besar yang memiliki nilai – nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia.
Daftar Pustaka
As’ad Djamhari, Saleh. 1979. Ikhtisar Sejarah Perjuangan ABRI (1945 Sekarang). Cet. Ke-2. Jakarta: Pusat Sejarah ABRI
Basri, Yusmar, Rokhmani Santoso dan Djanabung Serasih. 1988. Hari – hari Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Markas Besar Angkatan Bersenjata Repblik Indonesia – Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar